Indonews.web.id, Jakarta, Jakarta Selatan, 8 September 2026 — Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Jakarta Selatan menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) Kelompok Layanan Bimbingan Integrasi (Kelayan Binter) di Tribrata Hotel, Jakarta Selatan, Selasa (8/9).

Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat pemahaman sekaligus membangun sinergi lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan pembimbingan dan pengawasan klien pemasyarakatan di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai stakeholder mulai dari tingkat kota, kecamatan, hingga kelurahan, serta jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan D.K. Jakarta.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi yang lebih erat dan berkelanjutan guna mendukung keberhasilan proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan laporan Ketua Pelaksana Kegiatan yang menyampaikan gambaran umum pelaksanaan Sosialisasi dan FGD Kelayan Binter, termasuk tujuan kegiatan serta pentingnya membangun kesamaan pemahaman dan sinergi bersama para stakeholder.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Selatan yang mewakili Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan.
Dalam sambutannya disampaikan pentingnya koordinasi dan kolaborasi antarinstansi dalam mendukung berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk upaya mendukung proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.
Selanjutnya,Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan D.K. Jakarta menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Sosialisasi dan FGD Kelayan Binter.
Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan yang diharapkan dapat menghasilkan pemahaman bersama serta langkah-langkah kolaboratif dalam pelaksanaan pembimbingan dan pengawasan klien pemasyarakatan.
Memasuki sesi materi, Prof. Adrianus Meliala hadir sebagai narasumber pertama dengan menyampaikan paparan mengenai keterlibatan Bapas dalam pelaksanaan pidana alternatif sesuai dengan KUHP baru dan KUHAP.
Paparan tersebut memberikan wawasan kepada peserta mengenai perkembangan sistem pemidanaan yang semakin membuka ruang bagi pelaksanaan pidana di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat posisi dan peran Bapas dalam proses pembimbingan dan pengawasan klien pemasyarakatan.
Dalam pemaparannya, Prof. Adrianus juga memberikan gambaran mengenai posisi Bapas sebagai institusi yang bekerja di tengah masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Pembimbing Kemasyarakatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan klien pemasyarakatan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan paparan Kepala Bapas Kelas I Jakarta Selatan mengenai peran dan fungsi Bapas dalam sistem Pemasyarakatan.
Materi yang disampaikan mencakup tugas dan fungsi Bapas, peran Pembimbing Kemasyarakatan, serta pelaksanaan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan terhadap klien pemasyarakatan.
Dalam paparannya, Kepala Bapas Jakarta Selatan menekankan pentingnya keterlibatan stakeholder di tingkat kewilayahan.
Melalui Kelayan Binter, Bapas Jakarta Selatan mendorong terbentuknya sinergi yang lebih kuat dengan pemerintah daerah serta berbagai unsur terkait dalam membantu pelaksanaan pembimbingan dan pengawasan klien pemasyarakatan.
Pemahaman stakeholder terhadap tugas dan fungsi Bapas dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas di lapangan.
Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan stakeholder tidak lagi awam terhadap proses pembimbingan dan pengawasan klien pemasyarakatan sehingga koordinasi dan kolaborasi di tingkat wilayah dapat berjalan secara optimal.
Selanjutnya, Kasubdit Pengawasan Klien Pemasyarakatan memberikan paparan mengenai Forum Integrasi Sosial (Foris) dan Kelompok Layanan Integrasi (Kelayan Binter)secara garis besar.
Dalam paparannya disampaikan bahwa kedua wadah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi antara Bapas dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta berbagai unsur masyarakat dalam mendukung proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.
Paparan tersebut juga menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses pembimbingan, pengawasan, pemberdayaan, serta penerimaan kembali klien pemasyarakatan di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor, proses reintegrasi diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab Bapas, tetapi menjadi upaya bersama seluruh unsur yang berada di lingkungan masyarakat.
Selain rangkaian pemaparan, kegiatan turut diisi dengan penayangan video selayang pandang Pemasyarakatan (PAS).
Penayangan video tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai sistem Pemasyarakatan, tugas dan fungsi di dalamnya, serta keterkaitan peran berbagai pihak dalam mendukung proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.
Sebagai bagian dari evaluasi, peserta kemudian mengikuti post-test untuk mengukur tingkat pemahaman setelah memperoleh rangkaian materi dari para narasumber.
Post-test menjadi salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana informasi yang disampaikan selama kegiatan dapat dipahami oleh peserta.
Melalui kegiatan Sosialisasi dan FGD Kelayan Binter ini, Bapas Jakarta Selatan berharap dapat terbangun ,kesamaan pemahaman, komitmen, dan sinergi lintas sektor, dalam mendukung pelaksanaan pembimbingan serta pengawasan klien pemasyarakatan.
Kolaborasi yang kuat antara Bapas dan stakeholder di wilayah diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi klien dalam menjalani proses reintegrasi sosial serta kembali berperan secara positif dan produktif di tengah masyarakat (Zul/Rls).













