Indonews.web.id, Banten, SERANG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan masih berada pada tingkat yang cukup tinggi hingga Sabtu (5/9/2026).
Rangkaian erupsi yang mulai terekam sejak Jumat (4/9/2026) malam tersebut terus berlanjut dan dipantau secara ketat oleh petugas pos pengamatan.
Petugas Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Cinangka, Kabupaten Serang, Muhammad Dika, mengonfirmasi bahwa letusan pertama terekam pada Jumat pukul 23.07 WIB dan gejolaknya masih berlangsung hingga akhir pekan.
”Sampai dengan saat ini pemantauan Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan erupsi yang cukup intens,” ujar Dika.
Ia menambahkan, aktivitas vulkanik tersebut tercatat pada instrumen seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 7 milimeter.
Terkait suara dentuman keras yang sempat meresahkan warga di sepanjang pesisir Banten hingga Lampung, Dika memberikan klarifikasi.
Ia memastikan gelombang suara tersebut berasal dari fenomena akustik di udara akibat erupsi, bukan bersumber dari gempa bumi tektonik atau pergeseran tanah.
”Dentuman-dentuman itu akibat gelombang erupsi Gunung Anak Krakatau yang merambat ke udara. Jadi bukan dentuman gempa bumi atau getaran tanah, tetapi berasal dari rambatan udara dari erupsi yang terasa di pesisir pantai Lampung dan Banten,” jelasnya.
Meski erupsinya tergolong intens, masyarakat diminta untuk tidak panik berlebihan terkait ancaman tsunami seperti yang pernah terjadi pada akhir 2018 lalu. Dika menegaskan, peluang terjadinya tsunami akibat erupsi kali ini sangat kecil.
Hal ini disebabkan oleh dimensi dan volume tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini yang jauh lebih kecil dibandingkan kondisinya sebelum longsoran besar pada 2018.
”Untuk potensi tsunami seperti 2018 sangat kecil kemungkinannya dan bisa dibilang tidak ada potensi karena memang tubuh Gunung Anak Krakatau masih kecil,” pukas Dika. Masyarakat di imbau untuk tetap tenang serta terus memantau informasi resmi dari pihak berwenang (Zul).













