Indonews.web.id, Sulsel,Takalar – Lembaga Pemasyarakatan (Lapis) Kelas IIB Takalar terus menunjukkan komitmennya dalam membekali Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dengan berbagai keterampilan produktif.
Salah satu program yang kini menjadi andalan dan terus dikembangkan adalah program pembinaan kemandirian melalui produksi songkok anyam (Songkok Guru), yang kini ditetapkan sebagai salah satu pembinaan unggulan di Lapas Takalar.
Melalui keterampilan menganyam ini, para warga binaan tidak hanya sekadar mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat selama menjalani masa pidana.
Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai wadah untuk mempersiapkan bekal mental dan keahlian nyata demi menyongsong masa depan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Misi Pelestarian Budaya Lokal Melalui Kaderisasi
Menariknya, program produksi songkok anyam ini memiliki misi mulia di luar dinding Lapas, yaitu sebagai upaya nyata pelestarian warisan budaya lokal.
Di tengah situasi modernisasi dan semakin berkurangnya jumlah pengrajin tradisional songkok guru di luar sana, Lapas Takalar justru mengambil peran sebagai benteng pertahanan kebudayaan tersebut.
Demi menjaga keberlanjutan keahlian ini, Lapas Takalar menerapkan sistem kaderisasi yang terstruktur.
Warga binaan yang telah mahir dan memiliki keterampilan tinggi secara sukarela turut membimbing dan menularkan ilmunya kepada para peserta baru.
Pola ini memastikan bahwa rantai keterampilan menganyam terus bersambung, berkembang, dan berkelanjutan.
Setiap helai anyaman serat yang dijalin oleh tangan-tangan warga binaan bukan sekadar menghasilkan produk bernilai ekonomi, melainkan menjadi bukti nyata dari semangat belajar, kerja keras, dan secercah harapan untuk kembali berkontribusi positif di tengah masyarakat kelak.
Ragam Program Pembinaan Kemandirian
Kepala Lapas Kelas IIB Takalar, Andi Gunawan, menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya mengoptimalkan berbagai lini program pembinaan yang ada agar dapat berjalan secara maksimal.
”Kami memiliki beberapa program pembinaan, seperti perkebunan, perikanan, industri batako, serta kerajinan songkok yang menjadi salah satu pembinaan unggulan di Lapas Takalar,” jelas Andi Gunawan.
Menurut Andi, pendekatan pembinaan yang dipilih sengaja menyentuh aspek kearifan lokal agar para warga binaan memiliki rasa bangga terhadap budayanya sendiri.
Ia menambahkan bahwa program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis dan nilai ekonomis bagi warga binaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari tanggung jawab moral instansi dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal yang kian hari mulai berkurang peminatnya di kalangan generasi muda (Zul).













