Indonews.web.id, BANDAR LAMPUNG – Era digital menuntut inovasi di segala lini, termasuk dalam pemasaran produk hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Menjawab tantangan tersebut, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kalianda bersama jajaran Seksi Kegiatan Kerja (Giatja) menghadiri Focus Group Discussion (FGD) strategis di Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung, Jumat (13/2).
FGD bertajuk “Transformasi Kebijakan Digitalisasi Pemasaran Hasil Produk Warga Binaan melalui Marketplace dalam rangka Mendukung Program Kemandirian Ekonomi Inklusif” ini dibuka langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Lampung. Agenda ini menjadi batu loncatan penting untuk membawa produk narapidana menembus pasar nasional melalui platform digital.
Menembus Batas Tembok Lapas Melalui E-Commerce
Selama ini, produk kreatif WBP seperti kerajinan tangan, olahan kuliner, hingga produk fashion memiliki potensi ekonomi yang besar namun sering terkendala jarak dan visibilitas. Transformasi digital dipandang sebagai solusi jitu untuk mengatasi hambatan akses pasar, penguatan branding, serta legalitas usaha.
Kehadiran jajaran Lapas Kalianda dalam forum ini menunjukkan keseriusan dalam memperkuat program pembinaan kemandirian. Digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan sarana untuk meningkatkan pendapatan WBP (melalui premi) sekaligus memperkenalkan produk berkualitas kepada masyarakat luas.
Kemandirian Ekonomi yang Inklusif
Kalapas Kalianda menegaskan bahwa muara dari seluruh proses pembinaan adalah lahirnya pribadi yang mandiri secara ekonomi setelah bebas nanti.
”Tujuan akhir dari pembinaan adalah menghadirkan warga binaan yang siap kembali sebagai pribadi yang mandiri dan produktif. Dengan digitalisasi pemasaran, hasil karya mereka memiliki peluang bersaing di pasar yang lebih luas, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan warga binaan, tetapi juga masyarakat,” ujar Kalapas Kalianda.
Melalui langkah transformasi ini, Lapas Kelas IIA Kalianda berkomitmen untuk terus meningkatkan literasi digital bagi petugas dan warga binaan, agar setiap produk yang dihasilkan di balik jeruji besi mampu bersaing secara kompetitif di ekosistem ekonomi digital Indonesia (Zul).













